KETIKUNG ANAK KIYAI halaman 2

 “Nggeh, Yai.” 

“Oya, antum dari Jombang ‘kan?” 

“Nggeh, Yai.” 

“Berarti tau santriwati bernama Aisha?” 

Yai menyebut nama gadis yang tinggal di hatiku, apa beliau ini tahu aku mencintainya. 

“Oh, nggeh Yai.” 

“Bagaimana anaknya?” 

“Dia gadis yang baik, sederhana di antara teman-temannya. Ada apa Yai?” 

“Oh, tidak. Hanya ingin tahu. Pergilah, kamu harus siap-siap ke masjid ‘kan.” 

“Oh, nggeh.”  Aku pun pamit. Keluar dari masjid usai sholat subuh, Ikhwan yang menggantikanku sebagai lurah baru di pesantren menghampiri. 


“Kang Abduh, sebentar.” 

“Ya.” Aku berhenti begitu ia memanggil. 

“Itu Kang, pagar belakang putri roboh. Tadi beberapa santri yang keliling jaga malam memberi laporan. Bisakah Akang mengurus?” 

“Ohya, baiklah. Biar ana ke sana memperbaikinya.”

“Terimakasih.” Setelah mengumpulkan beberapa santri dan akan pergi ke asrama putri dengan membawa alat-alat, Gus Hanan yang kebetulan ada di pintu dapur meminta bergabung menawarkan bantuan. 


Jadilah kami pergi bersama memasuki asrama putri. Mungkin akulah satu-satunya santri yang deg-degan karena memasuki kawasan itu, ada gadis yang aku rindukan di sana. 


Setelah memberi tahu salah seorang ustazah, tidak lama suara gadis-gadis itu gaduh berlarian menuju tempat yang kami tidak bisa melihat mereka. 

“Ada gus, ada gus.” Itulah suara yang tertangkap dari mulut-mulut mereka.


Ah, kenapa bukan namaku yang disebut? Untuk sesaat aku merasa iri pada anak kiyai itu, asal bukan Aish saja yang naksir padanya, jika tidak, tidak tahu apa yang akan menimpa hatiku. 


Baru beberapa langkah, aku melihat gadis bernama Aisha itu duduk di teras asrama memegang sebuah kitab, sepertinya ia serius belajar, tidak sepertiku, di saat ulangan seperti ini pun masih sibuk berkeliaran di luar asrama.


ke halaman 3 --- >

Post a Comment

0 Comments