KETIKUNG ANAK KIYAI novel by wafa farha

                         KETIKUNG ANAK KIYAI




                         KATA PENGANTAR 

 

Setelah sebelumnya “Dilamar Anak Kiyai” banyak diminati, kisah Abduh dalam kisah itu kembali diangkat dengan judul berbeda “Ketikung Anak Kiyai.” Di balik asumsi masyarakat bahwa dunia pesantren itu kaku dan membosankan, ada banyak hal menarik di belakang pagar pesantren.


Termasuk kisah-kisah cinta santri yang mereka mengikatnya dengan aturan Islam yang melekat pada lembaga pendidikan tersebut. Kisah suka, duka dan menggemaskan sekaligus membuat baper yang mendengarnya. Untuk itulah cerita ini ada, berharap menambah wawasan pembaca tentang dunia pesantren yang menyenangkan dan sarat kebaikan di sana, sehingga bisa mengambil ibrahnya.


                                       DAFTAR ISI 

KETIKUNG ANAK KIYAI — 1 

JATUH CINTA LAGI — 45 

HATI HILMA: JANGAN BAPERAN! — 105




      Bagian 1 

                              KETIKUNG ANAK KIYAI

 “Ada banyak cinta di luar sana, tapi entah ... hatiku memilihmu untuk melabuhkan cintanya.” 

                                               *** 


Rasanya sudah tidak sabar menanti kelulusan dan meminta orangtuaku ke rumah gadis yang selama ini aku cintai. Menasehati diri ‘bersabarlah

wahai hati, semua akan indah pada waktunya’.

 Sore itu, yai sedang membaca kitab tebal di samping rumah. Ia duduk di kursi depan kolam kecil indah yang dibentuk menyerupai taman. Ada air terjun mungil buatan yang gemericiknya membuat hati tenang bagi yang mendengarnya.

 “Assalamualaikum. Maaf Yai.” Kuletakkan minuman jahe kesukaan Yai buatan Umi di dapur tadi.

 “Waalaikumsalam.” Yai melepas kacamatanya, menutup kitab dan melihat ke arahku. “Oh, Abduh. Terimakasih.”

 “Nggeh. Saya permisi.”

“Abduh, sebentar.” Tidak jadi pergi, aku kembali mendekat Yai dan duduk di kursi sisi lain darinya.

 “Em, sebentar lagi kelulusanmu, ya. Apakah antum akan langsung menikah?” 

Tiba-tiba aku merasa malu, melihat reaksiku Yai kembali bertanya. 

“Apa ada gadis yang antum sukai?” Aku hanya tersenyum. 

“Ahhahha, ya tidak apa kalau belum mau bilang.

 Tapi, siapapun gadis itu antum harus segera mengkhitbahnya sebelum keduluan yang lain.”



ke halaman 2 ---> http://fairuzer.blogspot.com/2021/02/ketikung-anak-kiyai-halaman-2.html?m=1




Post a Comment

0 Comments